Pendidikan Etnoekologi dalam Konteks Pawang Laot: Pelestarian Pengetahuan Lokal dan Keberlanjutan Ekosistem Laut
Keywords:
Pendidikan etnoekologi, pawang laut, kearifan lokal, masyarakat pesisir, pendidikan berbasis budaya, konservasi lautAbstract
This study aims to explore the relationship between local ecological knowledge possessed by pawang laut (sea guardians) and its integration into ethnoecological education in coastal communities. The pawang laut is a central cultural figure in maritime societies, serving not only as a spiritual leader who conducts traditional sea rituals but also as a custodian of intergenerational ecological knowledge. This knowledge includes an understanding of seasonal cycles, wind and wave patterns, fish migration, and customary practices for marine conservation that are deeply rooted in indigenous wisdom. In the context of modern environmental education, such traditional knowledge holds great potential to support culturally relevant and sustainable ecological learning.Employing a qualitative ethnographic approach, this research was conducted in a coastal community in Aceh, Indonesia. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with pawang laut, schoolteachers, cultural leaders, and students, as well as through the analysis of local documents such as customary texts, oral traditions, and community-based informal educational practices. The findings reveal that the pawang laut plays an influential, though informal, role in transmitting ecological values to the younger generation through daily interactions and traditional rituals such as sea thanksgiving (kenduri laut) and seasonal fishing prohibitions. However, the formal education system has yet to fully accommodate or incorporate this rich local knowledge into the curriculum. In fact, the integration of ethnoecological values can significantly enhance contextual learning, foster environmental awareness, and strengthen students’ ecological identity.Therefore, this study recommends the development of a culturally grounded ethnoecological education model that actively involves the pawang laut as a living knowledge resource. This initiative may include teacher training, the creation of local content modules, and collaborative efforts between schools, indigenous communities, and local governments. Education rooted in cultural identity and local ecological wisdom offers a promising path toward producing a generation that is not only academically competent but also ecologically conscious and culturally resilent.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam keterkaitan antara pengetahuan lokal yang dimiliki oleh pawang laut dan implementasinya dalam pendidikan etnoekologi pada komunitas pesisir. Pawang laut merupakan sosok sentral dalam sistem kepercayaan dan budaya maritim masyarakat pesisir, yang tidak hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual dalam ritual adat laut, tetapi juga sebagai penjaga dan pewaris pengetahuan ekologis tradisional. Pengetahuan ini meliputi pemahaman tentang perubahan musim, kondisi angin dan gelombang, migrasi biota laut, serta tata cara pelestarian ekosistem berdasarkan nilai-nilai lokal dan adat istiadat. Dalam konteks modern, pengetahuan tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung pendidikan lingkungan hidup dan konservasi laut yang berbasis budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, yang dilaksanakan di salah satu komunitas pesisir di Aceh. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pawang laut, guru, tokoh adat, serta siswa sekolah dasar dan menengah. Selain itu, peneliti juga menganalisis dokumen-dokumen lokal seperti naskah adat, narasi lisan, dan praktik pendidikan informal yang berlangsung di lingkungan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pawang laut dalam pendidikan berlangsung secara informal namun signifikan. Melalui interaksi sosial dan upacara adat seperti kenduri laut dan upacara larangan melaut, nilai-nilai kearifan ekologis ditanamkan sejak dini pada generasi muda. Sayangnya, sistem pendidikan formal belum banyak mengakomodasi kekayaan pengetahuan lokal ini dalam kurikulum maupun pembelajaran. Padahal, integrasi nilai-nilai etnoekologi dapat memperkuat pembelajaran berbasis kontekstual, menumbuhkan rasa cinta lingkungan, dan membentuk identitas ekologis siswa. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan perlunya pengembangan model pendidikan etnoekologi berbasis lokal yang melibatkan pawang laut sebagai sumber belajar. Upaya ini dapat dilakukan melalui pelatihan guru, pengembangan muatan lokal, serta kolaborasi antara sekolah, masyarakat adat, dan lembaga pemerintah daerah. Pendidikan yang berakar pada budaya lokal seperti ini diyakini dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan laut.
References
Abdurrahman, D. (2014). Magis dan Maritim: Studi tentang Pawang dalam Kehidupan Nelayan Pesisir Selatan. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Ariasari, P. (2018). Integrasi Kearifan Lokal dalam Kurikulum Muatan Lokal Berbasis Lingkungan. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 23(2), 115–126.
Arifin, Z. (2020). Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal sebagai Wujud Pemberdayaan Komunitas. Jurnal Ilmu Pendidikan, 16(1), 34–45.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2019). Kamus Istilah Budaya Bahari. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Cahyono, T. (2021). Etnoekologi sebagai Pendekatan Pendidikan Konservasi di Komunitas Pesisir. Jurnal Ilmu Lingkungan, 19(1), 55–68.
Damanik, R. (2017). Peran Pawang Laut dalam Konservasi Maritim Tradisional. Jurnal Antropologi Indonesia, 38(3), 244–258.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1981). Kebudayaan Daerah Sumatera Utara: Tradisi dan Kepercayaan Masyarakat Pesisir. Jakarta: Balai Pustaka.
Fadli, R. (2020). Pengetahuan Tradisional sebagai Basis Pendidikan Lingkungan. Jurnal Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan, 2(2), 71–84.
Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Hasan, M. (2021). Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Budaya Lokal dalam Pendidikan IPA. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 9(2), 122–135.
Kleden, A. (2019). Kearifan Lokal sebagai Metode Pengetahuan dalam Pendidikan Formal. Jurnal Filsafat, 29(1), 89–101.
Lubis, A. Y. (2015). Pendidikan dan Transformasi Pengetahuan Lokal dalam Masyarakat Adat. Jurnal Pendidikan dan Pembangunan Sosial, 12(1), 59–73.
Maulida, S., & Sari, N. (2022). Implementasi Etnopedagogi dalam Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 7(2), 150–163.
Mulyani, E. (2016). Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Nilai Lokal dalam Masyarakat Maritim. Jurnal Ilmu Pendidikan, 13(2), 101–112.
Nugroho, H. (2020). Kearifan Lokal Nelayan Pesisir dalam Konteks Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 13–28.
Nuraini, R., & Ramdani, A. (2021). Peran Kultural Pawang Laut dalam Sistem Sosial Masyarakat Adat. Jurnal Antropologi UGM, 45(2), 207–221.
Rohim, A. (2017). Revitalisasi Nilai Adat Laut melalui Pendidikan Sekolah di Komunitas Pesisir. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 23(4), 334–346.
Rosyada, D. (2019). Pendidikan Kontekstual Berbasis Budaya Lokal. Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), 27–39.
Sa'diyah, H. (2020). Pendidikan Etnoekologi: Integrasi Pengetahuan Lokal dalam Kurikulum Pendidikan Dasar. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, 6(1), 48–60.
Widiyanto, A. (2018). Eksistensi Pawang Laut dalam Perspektif Sosiologi Lingkungan. Jurnal Sosiologi Reflektif, 12(1), 91–105.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Annisa Aprila, Samsuar Samsuar (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





