Pembuatan Garam Tradisional di Desa Labuy Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar

Authors

  • Lidya Wahyu Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abulyatama, Aceh besar Author

Keywords:

Garam, Tradisional, Aceh Besar

Abstract

This study explores the history, production process, health benefits, and cultural and spiritual significance of salt, particularly in Aceh. Salt is a vital commodity known since prehistoric times and plays an essential role in people’s lives, both as a food ingredient and a part of local traditions. In Aceh, salt production is traditionally carried out through the evaporation of seawater, involving community members especially women in nearly every stage of the process. Additionally, salt holds symbolic value in Acehnese beliefs and is associated with various customary practices. This study also elaborates on the stages of salt production, its nutritional content, the health benefits and risks of consumption, and traditional beliefs surrounding its use.

Abstrak: Penelitian ini membahas sejarah, proses produksi, manfaat kesehatan, serta nilai budaya dan spiritual garam, khususnya di Aceh. Garam merupakan komoditas penting yang telah dikenal sejak zaman prasejarah dan memainkan peran besar dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai bahan konsumsi maupun sebagai bagian dari tradisi lokal. Di Aceh, proses pembuatan garam dilakukan secara tradisional melalui penguapan air laut, dengan melibatkan masyarakat, terutama perempuan, dalam hampir semua tahap produksi. Selain itu, garam juga memiliki makna simbolik dalam kepercayaan masyarakat Aceh. Penelitian ini juga menjelaskan tahapan produksi garam, kandungan gizinya, manfaat dan dampaknya terhadap kesehatan, serta kepercayaan adat yang terkait dengan penggunaannya.

References

Apriyanto, T. (2008). Kerangka Evaluasi Pengembangan Terminal Bus Antar Kota. Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan, 5(2), 85–92.

Brown, D. (2005). Planning a Green Campus. Environmental Design and Construction.

Depkes RI. (2010). Pedoman Konsumsi Garam Beryodium bagi Masyarakat Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Fitriani, A. (2016). Hubungan Konsumsi Garam Berlebih dengan Tekanan Darah pada Lansia di Puskesmas X. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(1), 45–53.

Fuadi, T.M. (2022). Model Pendidikan Reproduksi Berbasis Budaya. Solok: Yayasan Pendidikan Cendekia Muslim.

Hasan, M. (2014). Simbolisme dan Spiritualitas dalam Tradisi Garam Aceh. Jurnal Antropologi Indonesia, 35(2), 112–123.

Ismail, H. (2019). Teknologi Tradisional dalam Produksi Garam di Aceh Besar. Jurnal Teknologi Pedesaan, 4(1), 55–62.

Kurlansky, M. (2002). Salt: A World History. New York: Penguin Books.

Rahman, A. (2020). Proses Evaporasi Garam Tradisional di Wilayah Pesisir Aceh. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 12(1), 76–84.

WHO. (2007). Salt as a Vehicle for Fortification. Geneva: World Health Organization.

WHO. (2012). Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: World Health Organization.

Widowati. (2009). Kompetensi Bidang Teknologi Pembelajaran dalam Mendukung Kerja Profesional Guru. Dalam Seminar Nasional Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan & Sertifikasi Tenaga Kependidikan (hlm. 193–199). Semarang: FT UNNES.

Yunus, S. (2015). Garam dalam Kehidupan Sosial Budaya Aceh. Jurnal Kebudayaan Aceh, 3(2), 87–95.

Zulfikar, A. (2018). Tradisi Pembuatan Garam dan Pewarisan Pengetahuan Lokal di Pesisir Aceh. Jurnal Warisan Budaya, 6(1), 21–30.

Downloads

Published

2025-06-30

Issue

Section

Articles

How to Cite

Pembuatan Garam Tradisional di Desa Labuy Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. (2025). Semasa: Jurnal Sosial Dan Budaya Dunia Melayu Raya, 1(1), 23-31. https://journal.ccula.org/index.php/semasa/article/view/58